Sampang II Republiku.com, — Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) jenis Solar dan Pertalite terus dikeluhkan masyarakat lantaran dipicu oleh penurunan pasokan /pengiriman kuota semua jenis BBM yang terjadi, khususnya di wilayah Kabupaten Sampang, Madura Jawa Timur, terhitung sejak Juni 2026.

Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun, terhitung sejak bulan Juni 2026, PT Pertamina (Persero) mengurangi jatah kuota pasokan semua jenis BBM hingga 30 sampai dengan 50 persen di seluruh Stasiun Pengisian Bahan bakar Umum (SPBU) wilayah Sampang.

Hal ini disebabkan karena kurs dolar naik, sehingga berpengaruh terhadap pasokan maupun harga BBM di seluruh Indonesia. Karena kurang lebih 90 persen, BBM di Indonesia masih impor, dan patokannya menggunakan dolar. Jadi kalau dolar naik, otomatis harga pokoknya naik sehingga selisihnya menjadi beban APBN sama dengan subsidi.

Menanggapi hal itu, masyarakat menilai pengurangan pasokan kuota BBM ini membuat masyarakat kecil sangat dirugikan, khususnya UMKM, nelayan, dan petani yang sangat bergantung pada BBM subsidi,” ujar Sumaiyah, salah seorang penjual bensin eceran di Sampang.

Menurutnya, pembatasan kuota pasokan BBM ini sangat berpengaruh terhadap perputaran ekonomi di kiosnya. Dalam beberapa hari terakhir terjadi antrean di setiap SPBU dan larangan untuk pembelian BBM dengan menggunakan jerigen.

” Pada intinya, kelangkaan maupun larangan pembelian BBM dengan menggunakan jerigen di SPBU itu merupakan tamparan keras bagi kami selaku penjual eceran. Padahal kami hanya ingin mendapatkan keuntungan sekitar 1000-2000 rupiah per liternya dari penjualan BBM tersebut, namun kok malah dibuat susah oleh negara kita sendiri,” keluhnya sembari raut wajah sedih, Sabtu (13/6/2026).

Hal serupa juga dialami oleh petani Sampang, Mustakim mengaku beberapa hari terakhir ini sangat kesulitan untuk mendapatkan bahan bakar minyak BBM jenis solar maupun pertalite di Sampang.

Menurutnya, bahan bakar BBM sangat penting untuk pertanian. Misalnya, di kegiatan produksi, penanganan dan penyimpanan pasca panen, pengolahan, lalu kemudian juga distribusi logistik, semua proses itu membutuhkan bahan bakar solar maupun pertalite.

” Sebagai contoh, saat ini para petani Sampang banyak yang menanam tembakau dan menunggu hasil panen nantinya. Kemudian banyak sawah yang sekarang ini menggunakan pompa air untuk proses pengairan, lalu jika BBM sulit kami dapatkan, maka proses pengairan akan terhambat dan resiko terjadi gagal panen,” pungkasnya.

Kebetulan mesin pompa miliknya menggunakan BBM jenis pertalite, “iya Mas, jadi mau tidak mau kami terpaksa membeli BBM jenis pertamax, walaupun harganya sangat tidak terjangkau bagi kami selaku rakyat kecil,” imbuhnya.

Rakyat Indonesia berharap, baik terhadap pemerintah daerah maupun pusat untuk segera menyikapi dengan bijak keresahan masyarakat terkait kelangkaan BBM jenis pertalite dan solar yang terjadi sejak awal Juni 2026. Rakyat mengerti APBN berat, Rakyat mengerti impor pakai dolar. Tapi jangan bikin rakyat kecil yang menanggung semua bebannya sendirian.

Kami percaya terhadap pemerintahan presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming hadir untuk rakyat kecil. Kami siap aturan, asal ada kepastian dan keadilan demi mewujudkan mimpi Indonesia Emas.