SAMPANG II Republiku.com — Tidak semua kesuksesan lahir dari kemudahan. Sebagian justru tumbuh dari keterpurukan, kehilangan, keberanian, dan kesabaran untuk kembali memulai ketika semuanya terasa hampir habis.
Kisah itu tergambar dalam perjalanan hidup H. Imam, seorang pengusaha asal Desa Panggung, Kec./Kabupaten Sampang yang kini mampu mengembangkan bisnis peci dan topi dengan omzet mencapai sekitar Rp50 juta per hari serta membuka lapangan pekerjaan bagi sekitar 44 karyawan.
Namun, di balik pencapaian tersebut, tersimpan perjalanan panjang yang penuh lika-liku. Jauh sebelum memiliki usaha yang berkembang hingga menembus pasar luar negeri, H. Imam pernah merasakan pahitnya hidup sebagai buruh tani, pedagang kaki lima, bahkan pemulung.
Kepada Republiku.com, H. Imam menceritakan bahwa langkahnya membangun usaha dimulai sejak 2004. Saat itu, ia mengumpulkan penghasilan dari pekerjaan sebagai buruh tani dan berjualan beras. Dengan modal yang sangat terbatas, ia kemudian memberanikan diri membuka lapak sebagai pedagang kaki lima (PKL) di Pasar Sri Mangunan.
” Awalnya saya benar-benar dari bawah. Modalnya dari hasil kerja sebagai buruh tani dan jual beras. Setelah itu saya mencoba berjualan sebagai PKL di Pasar Sri Mangunan,” ujar H. Imam mengenang awal perjuangannya.
Pada tahun 2007, H. Imam menikah. Tanggung jawab sebagai kepala keluarga membuat semangatnya untuk bekerja semakin besar. Ia terus berusaha mengembangkan usaha yang dirintisnya, meski kondisi ekonomi tidak selalu berpihak.
Cobaan terbesar datang pada 2014. Tempat usaha atau bedak miliknya di pasar Sri Mangunan mengalami kebakaran. Musibah tersebut membuat barang dagangan dan sumber penghasilannya ikut terdampak. Belum selesai menghadapi kerugian akibat kebakaran, H. Imam kembali mengalami persoalan finansial setelah uang pinjaman sekitar Rp70 juta yang dipinjamkan kepada rekannya untuk keperluan usaha tidak kembali sebagaimana yang diharapkan.
” Saat itu usaha habis karena kebakaran. Kemudian uang hasil pinjaman sekitar Rp70 juta juga tidak kembali dan masih tanggung beban hutang. Jadi memang harus mulai lagi dari bawah,” ungkapnya, sembari ngopi santai, Minggu (30/8/2026).
Kondisi tersebut membuat H. Imam berada dalam titik sulit. Pada 2015 hingga akhir 2016, ia bahkan menjalani pekerjaan sebagai pemulung dan juru parkir. Bagi sebagian orang, pekerjaan tersebut mungkin dianggap sebagai sebuah keterpurukan. Namun bagi H. Imam, tidak ada pekerjaan yang memalukan selama dilakukan untuk bertahan hidup dan menjemput masa depan.
” Saya pernah memulung di waktu siang dan malam menjadi juru parkir di sekiran Monumen Sampang. Yang penting waktu itu bagaimana bisa bertahan dan tetap bekerja. Saya tidak mau menyerah,” katanya.
Dari pekerjaan tersebut, H. Imam perlahan kembali mengumpulkan kekuatan. Ia kemudian mencoba berdagang lagi dengan memanfaatkan barang-barang sisa yang masih bisa dijual ke penampungan pasca musibah kebakaran pasar Sri Mangunan Sampang.
Titik balik mulai terlihat pada 2017. H. Imam bertemu dengan seorang pengusaha asal Lamongan yang kemudian mengajaknya bekerja sama. Dari hubungan tersebut, ia mendapatkan akses barang dengan harga grosir yang lebih kompetitif.
Kesempatan itu tidak disia-siakan. H. Imam mulai menawarkan barang kepada para pedagang di sekitar pasar. Ia harus berhadapan dengan persaingan reseller yang saat itu telah lebih dulu memiliki jaringan pemasaran.
Namun, pengalaman jatuh bangun membuatnya memilih untuk tidak mundur.
” Saya anggap persaingan itu sebagai tantangan. Bagaimana caranya supaya barang kita bisa diterima pedagang dan jaringan kita semakin luas,” ujarnya.
Perlahan, usaha tersebut mulai menemukan pasar. Pesanan datang dari Sumenep dan kemudian berkembang ke berbagai wilayah di Madura Raya. Meningkatnya permintaan membuat kebutuhan modal ikut bertambah.
H. Imam pun kembali mengambil risiko. Ia meminjam modal sekitar Rp35 juta kepada kerabat untuk memperbesar usahanya.
Di tengah perjuangan membangun bisnis, H. Imam juga memiliki impian lain, yakni menunaikan ibadah umrah bersama istrinya. Pada 2018, ia telah berhasil mengumpulkan tabungan sekitar Rp50 juta.
Namun, rencana tersebut kembali berubah ketika sang ibu menyampaikan keinginannya untuk berangkat ke Tanah Suci.
H. Imam bersama istrinya kemudian memilih mendahulukan sang ibu. Mereka berusaha mencari tambahan sekitar Rp25 juta agar sang ibu dapat ikut berangkat. Kekurangan tersebut kemudian diupayakan melalui pembayaran bertahap dengan mencicil sekitar Rp1 juta setiap bulan kepada perusahaan pemberangkatan umrah.
” Keinginan saya waktu itu sebenarnya ingin umrah bersama istri. Tetapi ketika ibu juga ingin berangkat, kami berpikir bagaimana caranya supaya ibu bisa ikut. Akhirnya kami usahakan bersama,” tuturnya.
Kepulangan dari tanah suci Mekkah, perjalanan bisnis H. Imam kembali memasuki babak baru. Tidak lagi hanya menjadi reseller, ia bersama mitranya dari Lamongan mulai berani mengambil langkah untuk memproduksi sendiri barang dagangan berupa topi dan peci.
Keputusan tersebut menjadi salah satu momentum penting dalam perkembangan usahanya. Produk yang diproduksi kemudian dipasarkan ke wilayah Madura Raya dan Lamongan.
Dari waktu ke waktu, jaringan pemasaran semakin melebar. Produk peci dan topi yang awalnya hanya berputar di pasar lokal mulai dikirim ke berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Kalimantan, Jakarta, Jawa Tengah, Padang, Lampung hingga sejumlah wilayah lainnya.
Yang lebih membanggakan, produk tersebut akhirnya mampu menembus pasar internasional dan dikirim hingga ke Malaysia.
” Alhamdulillah, dari yang awalnya hanya berjualan di sekitar pasar, sekarang barang bisa dikirim ke berbagai daerah. Bahkan sudah sampai Malaysia,” kata H. Imam.
Kini, perjalanan panjang tersebut telah mengubah kehidupan H. Imam. Dari seorang yang pernah bekerja sebagai pemulung dan jukir, ia kini mampu membangun usaha dengan omzet sekitar Rp50 juta per hari.
Lebih dari sekadar angka omzet, perkembangan usaha tersebut juga memberikan dampak bagi orang lain. Sekitar 44 karyawan kini menggantungkan penghasilan dari usaha yang dibangun H. Imam.
Bagi H. Imam, perjalanan tersebut menjadi bukti bahwa keterpurukan bukanlah akhir dari segalanya. Kebakaran, kehilangan modal, menjadi pemulung dan jukir hingga kembali membangun usaha justru menjadi bagian dari proses yang membentuk mentalnya sebagai pengusaha.
Ia berharap kisahnya dapat menjadi motivasi bagi masyarakat, khususnya mereka yang sedang berada dalam kondisi sulit agar tidak mudah menyerah terhadap keadaan.
” Jangan melihat kondisi hari ini sebagai akhir. Kalau kita mau berusaha, terus belajar dan tidak mudah menyerah, insyaallah akan ada jalan. Saya sendiri pernah berada di bawah, pernah memulung, tetapi Alhamdulillah bisa bangkit,” pungkas H. Imam.


Tinggalkan Balasan