MADIUN, republiku.com – Dua kasus kematian pasien usai menjalani operasi di RSUD Caruban, Kabupaten Madiun, kembali menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat dalam beberapa waktu terakhir. Meski peristiwanya terjadi pada Februari 2026 lalu, dugaan adanya malpraktik kini kembali mencuat dan memicu keresahan warga, khususnya di wilayah Caruban.
Korban pertama diketahui seorang ibu muda berinisial T (27). Ia meninggal dunia pada Kamis (6/2/2026) setelah menjalani operasi caesar di RSUD Caruban. Berdasarkan informasi yang dihimpun dari warga sekitar, usai menjalani operasi korban sempat diperbolehkan pulang ke rumah.
Namun tak lama setelah tiba di rumah, korban mengalami pendarahan hebat. Pihak keluarga kemudian kembali membawa korban ke RSUD Caruban untuk mendapatkan penanganan lanjutan. Sayangnya, nyawanya tidak tertolong dan korban meninggal dunia diduga akibat pendarahan yang tidak terkendali.
Belum genap satu bulan dari kejadian tersebut, kabar duka kembali datang dari warga Caruban. SPR, seorang warga setempat, meninggal dunia pada Jumat (20/2/2026) sekitar pukul 00.00 WIB.
Sebelum meninggal, pada Kamis (19/2/2026) siang, SPR diketahui menjalani operasi pengangkatan lipoma, yang oleh warga setempat kerap disebut sebagai “uci-uci”. Menurut keterangan warga, seusai operasi kondisi SPR sempat dinyatakan stabil.
Namun tidak lama kemudian, kondisinya dikabarkan menurun drastis hingga akhirnya meninggal dunia.
Kematian dua pasien RSUD Caruban pascaoperasi di rumah sakit yang sama dalam waktu yang berdekatan ini memicu kecurigaan sekaligus keresahan masyarakat. Dugaan adanya kesalahan prosedur medis pun mulai mencuat di tengah warga.
“Wong-wong dadi wedi arep berobat mrono mas, bukane mari malah mati,” ujar salah satu warga. (Orang-orang jadi takut berobat ke sana mas, bukannya sembuh malah meninggal).
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak RSUD Caruban terkait penyebab pasti kedua kematian tersebut maupun klarifikasi atas dugaan malpraktik yang berkembang di tengah masyarakat.
Warga berharap ada penjelasan terbuka dan investigasi menyeluruh dari pihak berwenang, agar fakta sebenarnya dapat terungkap dan kepercayaan masyarakat terhadap layanan kesehatan bisa kembali pulih.


Tinggalkan Balasan