SAMPANG II Republiku.com, — Kreativitas siswa SDN Mandangin 4, Kecamatan Sampang, Kabupaten Sampang, mencuri perhatian dalam pawai/karnaval memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Di tengah kemeriahan tersebut, para siswa membawa konsep unik bertajuk “Menu MBG Bayangan”.

Konsep tersebut bukan bentuk penolakan terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG). Sebaliknya, “MBG Bayangan” menjadi gambaran polos sekaligus harapan anak-anak Pulau Gili Mandangin yang hingga kini belum merasakan langsung program pemerintah tersebut.

Kepala SDN Mandangin 4, Ahmad Ayus Andika, mengatakan pihak sekolah pada prinsipnya mendukung program pemerintah. Namun, posisi sekolah dan para siswa saat ini masih sebagai pihak yang menunggu realisasi manfaat MBG.

“ Kalau dikatakan mendukung program Bapak Presiden, kami di sini posisinya sebagai penerima. Sampai detik ini, anak-anak kami belum merasakan atau mencicipi MBG tersebut,” ujar Ahmad Ayus Andika saat dikonfirmasi Republiku.com, Rabu (19/8/2026).

Menurut Ahmad, istilah “MBG Bayangan” muncul dari pengalaman sederhana para siswa. Mereka mengetahui tentang program tersebut melalui berbagai informasi, termasuk media sosial seperti TikTok, tetapi belum pernah merasakan langsung makanan bergizi gratis yang selama ini mereka lihat.

Menariknya, gagasan tersebut justru datang dari para siswa sendiri saat sekolah mempersiapkan konsep untuk mengikuti karnaval. Mereka berdiskusi dan kemudian mengusulkan agar MBG dijadikan bagian dari penampilan.

“ Awalnya anak-anak sendiri yang punya ide. Mereka ingin menyanyikan MBG (Mas Bahlil Ganteng). Dari situ muncul gagasan, bagaimana kalau MBG kita angkat dalam karnaval,” jelasnya.

Bagi Ahmad, kreativitas tersebut menjadi cara sederhana anak-anak dalam menyampaikan aspirasi. Mereka tidak menyampaikan tuntutan dengan cara keras, melainkan melalui simbol, lagu, dan kreativitas khas dunia anak.

Pulau Gili Mandangin sendiri merupakan wilayah kepulauan yang aksesnya membutuhkan transportasi laut. Kondisi wilayah tersebut membuat harapan masyarakat agar program pemerintah dapat hadir secara merata menjadi semakin besar, termasuk bagi anak-anak sekolah.

Ahmad Ayus Andika menambahkan, pihak sekolah memahami bahwa pelaksanaan program MBG membutuhkan tahapan dan kesiapan. Namun, berdasarkan informasi yang diterima, pembangunan dapur MBG disebut telah selesai, sementara manfaat program tersebut belum dirasakan oleh para siswa di sekolahnya.

“ Katanya pembangunan untuk dapurnya sudah selesai, cuma sampai sekarang masih belum ada realisasi,” ungkap Ahmad.

Melalui “MBG Bayangan”, para siswa SDN Mandangin 4 seolah menitipkan pesan sederhana kepada pemerintah, mereka bukan sekadar ingin melihat MBG dari layar ponsel, tetapi ingin suatu hari benar-benar duduk di bangku sekolah dan merasakan makanan bergizi gratis tersebut. Sebuah harapan polos dari anak-anak pulau yang justru terasa begitu dalam.