SAMPANG II Republiku.com — Seusai pengajian rutin Majelis Dzikir Fida’ Qubro, Rabu (30/9/2026) malam, Abu Azmi mengingatkan para anggota majelis agar senantiasa melakukan evaluasi diri dan tidak terlena oleh kehidupan dunia.
Majelis Dzikir Fida’ Qubro dikenal dengan amalan membaca Surat Al-Ikhlas sebanyak 100.000 kali yang diniatkan sebagai tebusan atau pembebasan diri, maupun orang lain yang telah wafat, dari siksa neraka.
Dalam tausiyahnya, Abu Azmi menyampaikan bahwa alim ulama secara umum merangkum lima perkara yang patut menjadi bahan kekhawatiran sekaligus evaluasi setiap hari.
Pertama, dosa yang telah lalu. Manusia tidak pernah mengetahui secara pasti apakah dosa yang telah diperbuat benar-benar telah mendapatkan ampunan Allah SWT.
Kedua, amal ibadah yang telah dilakukan. Salat, sedekah, puasa dan berbagai amal kebaikan perlu terus dievaluasi, apakah diterima Allah SWT atau justru terhapus akibat penyakit hati, seperti riya dan ujub.
Ketiga, sisa umur. Setiap orang perlu menyadari bahwa tidak ada yang mengetahui bagaimana sisa hidupnya akan dijalani, apakah dalam ketaatan atau justru terjerumus dalam kemaksiatan dan kelalaian.
Keempat, dua jalan kehidupan setelah kematian, yakni surga dan neraka. Setiap manusia pada akhirnya akan menghadapi kehidupan akhirat dengan balasan atas amal yang telah diperbuat selama di dunia. Karena itu, seseorang tidak boleh merasa aman dari dosa maupun terlalu yakin dengan amalnya sendiri.
Kelima, ujian di masa depan. Keteguhan iman harus senantiasa dijaga karena manusia akan menghadapi berbagai godaan dan ujian dalam perjalanan hidupnya demi meraih ridha Allah SWT.
Abu Azmi juga mengingatkan bahaya panjang angan-angan yang dapat membuat seseorang lalai terhadap kehidupan akhirat. Menurutnya, manusia terkadang justru lebih takut kehilangan rezeki daripada memikirkan dosa yang telah diperbuat.
“Jangan sampai kita lebih takut tidak makan karena tidak mendapatkan rezeki daripada takut terhadap dosa,” pesan Abu Azmi.


Tinggalkan Balasan