PAMEKASAN —Republiku.com Sebuah wajah baru yang segar mulai mewarnai peta pariwisata dan pertanian di Kabupaten Pamekasan. Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE) Farm, yang berlokasi tepat di belakang Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Pamekasan, di Jalan Bagandan, Kelurahan Jungcangcang, kini tumbuh menjadi kawasan agrowisata yang tidak sekadar indah dipandang, melainkan memberi manfaat nyata bagi masyarakat luas.
Pada Kamis pagi, 25 September 2026, sekitar pukul 10.00 WIB, kawasan yang tertata rapi dan hijau ini tampak semarak dikunjungi oleh Ibu Tinuk Kholilurrahman. Bersama rombongan, ia menikmati suasana sejuk sekaligus memetik langsung buah-buahan segar yang tumbuh subur di lahan pertanian yang dikelola dengan penuh ketelatenan ini.
Terletak di posisi yang sangat strategis dan mudah dijangkau dari berbagai penjuru kota, SAE Farm kini kian dikenal sebagai tempat tujuan warga yang ingin merasakan kembali kehangatan alam, menikmati udara bersih, serta membawa pulang hasil bumi yang baru saja dipetik dari tangkainya segar, murni, dan terjamin kualitasnya.
Di antara deretan komoditas unggulan yang dipajang, satu buah menarik perhatian sekaligus memikat lidah Ibu Tinuk secara khusus Melon Sultan. Saat mencicipi buah tersebut, kekagumannya terungkap begitu tulus.
“Saya mencoba Melon Sultan ini dan rasanya sungguh luar biasa. Enak, manis, dan lezat sekali sampai terasa seperti memakan gula alami. Saya sangat menyukainya,” ujar Ibu Tinuk dengan wajah yang tampak puas dan antusias.
Kunjungan ini bukan sekadar wisata biasa. Ibu Tinuk turut didampingi oleh sahabat sekaligus rekan dari luar pulau, Bapak Agus Mangun, seorang pengusaha terkemuka dari Kalimantan yang datang bersama keluarganya. Kehadiran tamu dari jauh ini menjadi bukti bahwa daya tarik SAE Farm mulai menembus batas wilayah Kabupaten Pamekasan.
“Alhamdulillah, hari ini saya bersama sahabat saya, Bapak Agus Mangun beserta keluarga, dapat merasakan langsung keindahan suasana memetik buah dan menikmati kesegaran hasil bumi di SAE Farm. Pengalaman ini sungguh menyenangkan dan berkesan,” tambahnya.
SAE Farm menghadirkan pengalaman yang berbeda dari pasar pada umumnya. Di sini, pengunjung dapat melihat, memilih, dan memetik sendiri hasil pertanian yang tumbuh subur di lahan yang terawat dengan sangat baik. Deretan tanaman yang tertata rapi menampilkan kekayaan hortikultura yang melimpah
Kesegaran dan keragaman hasil bumi ini tidak hanya memikat mata warga yang melintas, tetapi juga mendorong banyak keluarga untuk datang secara khusus. Bagi Ibu Tinuk, keberadaan tempat ini memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar tempat berbelanja.
“Adanya lahan petik buah ini jelas menambah geliat usaha di sekitar kita. Ini mempercepat perputaran ekonomi warga, membuka peluang, dan memberi warna baru bagi kehidupan masyarakat Pamekasan,” ungkapnya dengan tegas.
Bapak Agus Mangun yang datang dari jauh juga menyampaikan pandangannya. Baginya, SAE Farm adalah bukti bahwa potensi Pamekasan tidak terbatas pada apa yang sudah dikenal selama puluhan tahun.
“Kehadiran lahan petik buah ini tidak hanya memudahkan warga mendapatkan buah dan sayur segar dengan harga yang tetap terjangkau, tetapi juga turut menggerakkan roda perekonomian masyarakat sekitar. Ini adalah langkah yang sangat baik dan patut didukung,” tutur Agus.
Lebih jauh, ia berharap semangat pertanian modern yang ramah lingkungan ini dapat menular ke seluruh pelosok daerah.
“Besar harapan saya agar lahan petik buah seperti ini terus bertahan, semakin ramai dikunjungi, dan bermunculan di tempat-tempat lain. Dengan begitu, Kabupaten Pamekasan tidak hanya dikenal luas sebagai daerah penghasil tembakau dan garam saja, tetapi juga sebagai destinasi wisata buah yang unggul, modern, dan membanggakan masyarakatnya sendiri.”
Kehadiran SAE Farm menjadi bukti nyata bahwa Pamekasan sedang tumbuh tidak hanya mengandalkan apa yang sudah ada, tetapi berani menumbuhkan hal-hal baru yang bermanfaat bagi rakyat. Di lahan yang dulunya mungkin biasa saja, kini tumbuh harapan bahwa pertanian bisa menjadi wisata, bahwa alam bisa memberi nafkah sekaligus ketenangan, dan bahwa wajah Pamekasan bisa semakin indah, beragam, dan sejahtera.
Melon Sultan yang manis itu bukan sekadar buah ia adalah simbol. Simbol bahwa di tanah Madura, di tanah Pamekasan, segala sesuatu yang dirawat dengan baik akan tumbuh subur, berbuah manis, dan dinikmati oleh banyak orang.ujarnya


Tinggalkan Balasan