SAMPANG II Republiku.com — Kesuksesan seseorang tidak selalu bisa diukur dari banyaknya harta, tingginya jabatan, maupun pencapaian duniawi. Di hadapan Allah SWT, kesuksesan hakiki adalah ketika seseorang mampu menjalani kehidupan dengan tetap menjaga kebaikan dan mempersiapkan bekal untuk akhirat.

Pesan tersebut disampaikan Abu Azmi, selaku pendiri Majelis Dzikir Fida’ Qubro, saat ngopi ngaji di kediamannya, Jln. Pemuda Baru, Kampung Kajuk, Sampang, Sabtu (12/9/2026). Ia mengingatkan para santri dan masyarakat agar tidak terlena dengan kehidupan dunia hingga melupakan Allah SWT.

Menurutnya, harta, jabatan, usaha, ilmu dan berbagai keberhasilan duniawi merupakan amanah sekaligus ujian. Semua itu dapat menjadi jalan menuju kebaikan apabila dimanfaatkan untuk beribadah dan memberikan manfaat kepada sesama.

“Orang yang sukses hakiki di hadapan Allah SWT adalah orang yang tidak pernah meninggalkan kebaikan, dzikir, amal dan terus mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat,” pesan Abu Azmi.

Ia menegaskan, manusia tetap boleh mengejar kesuksesan dunia, membangun usaha, mengembangkan karier dan meningkatkan kesejahteraan keluarga. Namun, seluruh ikhtiar tersebut jangan sampai membuat seseorang kehilangan arah dan semakin menjauh dari Allah SWT.

Abu Azmi mengingatkan, harta, jabatan dan berbagai kenikmatan dunia pada akhirnya akan ditinggalkan. Karena itu, selama masih diberikan umur dan kesempatan, manusia hendaknya memperbanyak amal, dzikir serta kebaikan sebagai bekal menghadap Allah SWT.

Menurutnya, keberhasilan sejati bukan hanya ketika kehidupan seseorang semakin mudah, tetapi ketika kemudahan tersebut membuatnya semakin dekat kepada Allah SWT dan semakin bermanfaat bagi orang lain.

“Dunia boleh dicari, tetapi jangan sampai hati kita diperbudak oleh dunia. Jangan sampai mendapatkan banyak hal di dunia, tetapi kehilangan bekal untuk akhirat,” ujarnya.

Ia juga mengajak seluruh santrinya untuk menjadikan setiap keberhasilan sebagai sarana berbagi dan berbuat baik. Harta dapat digunakan untuk bersedekah, ilmu untuk mencerdaskan, jabatan untuk melayani, serta waktu dan kesehatan untuk memperbanyak ibadah.

Menurut Abu Azmi, keseimbangan antara ikhtiar dunia dan persiapan akhirat menjadi hal penting dalam menjalani kehidupan. Kesibukan bekerja dan mengejar cita-cita harus tetap diiringi dzikir, ibadah serta kepedulian terhadap sesama.

Melalui Majelis Dzikir Fida’ Qubro, ia terus mengajak para santri untuk menjadikan dzikir dan amal saleh sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Menurutnya, dzikir bukan sekadar ucapan, tetapi harus tercermin dalam perilaku dan kebaikan.

Abu Azmi juga mengingatkan agar manusia tidak menunda berbuat baik. Sebab, tidak seorang pun mengetahui kapan kesempatan hidup akan berakhir. Selama masih diberikan umur, setiap waktu hendaknya dimanfaatkan untuk memperbaiki diri dan menambah amal.

Pada akhirnya, kesuksesan hakiki bukan tentang siapa yang paling kaya, tinggi jabatannya atau luas pengaruhnya. Kesuksesan sejati adalah ketika seseorang mampu menikmati kehidupan dunia tanpa melupakan Allah SWT, istiqamah dalam kebaikan, serta membawa bekal amal terbaik menuju kehidupan akhirat.