SURABAYA ll Republiku.com – Di tengah derasnya arus informasi digital, muncul gerakan yang mengajak media online kembali pada akar etika jurnalistik. Gerakan “Media Berakal Sehat” hadir sebagai respons atas maraknya pemberitaan yang mengutamakan kecepatan dan sensasi di atas akurasi dan kebenaran.

“Media online harus menjadi ruang publik yang waras dalam berpikir, sehat dalam memberitakan, dan berbudaya dalam bersikap,” demikian spirit yang diusung gerakan ini.

Kecepatan teknologi, menurut M Zainul Arifin (Republiku.com) penggagas gerakan, tidak boleh membuat manusia kehilangan nalar. Kebebasan pers tidak boleh berubah menjadi kebebasan memanipulasi. Dan berita tidak boleh menjadi komoditas yang diperdagangkan dengan mengorbankan kebenaran,Minggu (13/9/2026).

Ciri-Ciri Media Sehat

Gerakan ini merumuskan sejumlah karakteristik media yang sehat, yakni media yang:

1. Mencari kebenaran, bukan sekedar sensasi;
2. Menggunakan 5W+1H, bukan asumsi dan fitnah;
3. Melakukan verifikasi sebelum publikasi;
4. Berani mengkritik kekuasaan tetapi tetap independen;
5. Membela kepentingan rakyat tanpa menjadi alat propaganda;
6. Menghormati martabat manusia;
7. Memiliki moral, etika, integritas, dan tanggung jawab sosial;
8. Mampu membedakan fakta, opini, propaganda, dan manipulasi.

Dari Media Bising Menuju Media Bernurani

Persoalan mendasar, menurut gerakan ini, bukanlah apakah media boleh berpihak. Media harus berpihak kepada kebenaran dan kepentingan publik. Namun keberpihakan itu harus lahir dari data, verifikasi, akal sehat, dan nurani bukan dari uang, kepentingan politik, pesanan kekuasaan, kebencian, atau algoritma yang mengejar klik.

“Jangan biarkan kebisingan menggantikan kebenaran. Jangan biarkan algoritma menggantikan nurani. Jangan biarkan kepentingan menggantikan fakta,” tegas pernyataan gerakan tersebut.

Gerakan Kebudayaan Jurnalistik

Momentum ini juga menjadi ajakan untuk membangun gerakan kebudayaan jurnalistik yang menyeluruh. Mulai dari pembinaan wartawan, jurnalis warga, hingga pengelola media yang cerdas menggunakan teknologi tetapi tidak kehilangan kemanusiaan.

Insan pers diajak untuk tetap kritis terhadap kekuasaan tetapi tidak kehilangan integritas; bebas bersuara tetapi bertanggung jawab atas setiap kata.

“Karena media bukan pengeras suara bagi mereka yang paling kuat. Media adalah mata, telinga, dan suara masyarakat dan suara itu harus tetap waras, benar, serta bernurani,” demikian pesan penutup gerakan ini.

Penutup

Gerakan Media Berakal Sehat menjadi pengingat bahwa di era banjir informasi, jurnalisme berkualitas adalah benteng terakhir kebenaran. Dibutuhkan komitmen kolektif dari seluruh elemen masyarakat pers untuk mewujudkan ruang publik yang tidak hanya merdeka, tetapi juga bertanggung jawab. (mza)