PAMEKASAN — Republiku.com  Di tengah budaya yang mengukur kebahagiaan dari harta, jabatan, dan status sosial, Prof. Dr. KH. Achmad Muhlis (Direktur Utama IBS Padepokan Kyai Mudrikah Kembang Kuning sekaligus Ketua Senat UIN Madura) mengajak umat membenahi kembali makna kegembiraan berdasarkan QS. Yunus Ayat 58.

“Al-Qur’an tidak melarang bergembira, tetapi memberi arah,” tegasnya. Kebahagiaan sejati bukan diukur dari apa yang dimiliki, melainkan dari kesadaran atas karunia (fadhlullah) dan rahmat Allah (rahmatullah). Inti ayat ini: geser pusat kegembiraan dari harta menuju keberkahan dan kegembiraan anak menghafal Al-Qur’an tidak boleh berhenti pada bangga diri, melainkan syukur yang dibuktikan amal nyata.

Ayat ini juga menjadi landasan syariat merayakan kedatangan Rasulullah SAW sebagai rahmat bagi semesta alam. Namun, tegas Prof. Muhlis, kegembiraan Maulid tidak boleh sekadar seremonial!

“Membaca Al-Qur’an, bershalawat, menyantuni yatim, berbagi makanan  di situlah kegembiraan pribadi berubah menjadi kekuatan sosial. Kebahagiaan satu hati menjadi kebahagiaan bersama.”

  Prof. Achmad Muhlis, juga menyampaikan “Semakin mengenal & mencintai Rasulullah, makin lembut akhlak, makin luas peduli, makin besar manfaat bagi orang lain. Kebahagiaan paling bernilai bukan karena yang dikumpulkan, melainkan karena rahmat Allah yang dibagikan kembali kepada sesama.”ujarnya