SAMPANG II Republiku.com – Di balik pesatnya perkembangan Kota Sampang, tersimpan sejumlah kampung tua yang memiliki sejarah panjang dan menjadi bagian dari identitas daerah. Salah satunya adalah Kampung Bere’en Pasar, yang berada tepat di jantung kota, yaitu Jln Kamboja, Kelurahan Rongtengah, Kecamatan Sampang, Kabupaten Sampang, Madura, JawaTimur.

Nama kampung yang dikenal oleh para leluhur dengan sebutan kampung (bere’en pasar), yang artinya baratnya pasar ini telah dikenal sejak puluhan tahun lalu dan diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat setempat.

Bagi warga kampung bere’en pasar, nama tersebut bukan sekadar penanda wilayah, melainkan bagian dari sejarah yang lahir dari kondisi alam pada masa lampau. Dahulu, kawasan itu terdapat pasar hingga menjadi ciri khas yang mudah dikenali masyarakat.

Sesepuh kampung, Mbah Syahril, menuturkan bahwa pada masa zaman dahulu, kampung kamboja ini dijuluki dengan kampung bere’en pasar, karena pas di depan kampungnya terdapat sebuah pasar tradisional dan menjadi pusat kegiatan ekonomi masyarakat dalam kesehariannya.

” Dulu kampung kami menjadi tempat pusat keramaian. Sehingga kawasan ini dikenal masyarakat sebagai kampung (bere’en pasar) sebelah baratnya pasar,” ujar Mbah Syahril, sembari memulai perbincangan santai dengan republiku.com, Jum’at (7/8/2026).

Menurutnya, sebelum berkembang menjadi kawasan permukiman yang padat seperti sekarang, wilayah tersebut masih didominasi lahan terbuka dengan dipenuhi pohon waru dan bambu, beserta beberapa rumah sederhana milik warga.

Namun setelah mengalami banyak perubahan dengan mengikuti perkembangan zaman, sehingga pasar pun akhirnya berpindah tempat sekarang menjadi pasar Sri Mangunan Sampang. Kendati demikian, nama kampung bere’en pasar tetap dipertahankan sebagai identitas yang mengingatkan masyarakat pada sejarah lahirnya kawasan tersebut.

” Nama kampung ini adalah saksi sejarah. Zaman dulu orang memberi nama kampung berdasarkan letaknya. Karena berada di sebelah barat pasar, masyarakat lebih mudah menyebutnya kampung bere’en pasar. Nama itu akhirnya dikenal sampai sekarang,” katanya.

Selain menjadi kawasan permukiman, kampung kamboja atau yang dikenal dengan kampung bere’en pasar itu menjadi saksi perjalanan perkembangan kota Sampang dari masa ke masa. Meski wajah kampung telah banyak berubah, nilai sejarah yang melekat pada namanya tetap hidup di tengah masyarakat.

Mbah Syahril berharap pemerintah daerah bersama tokoh masyarakat dan kalangan akademisi dapat mendokumentasikan sejarah kampung-kampung tua di Kabupaten Sampang. Menurutnya, pelestarian sejarah lokal merupakan bagian penting dalam menjaga identitas budaya sekaligus menjadi warisan berharga bagi generasi mendatang.

” Dengan tetap lestarinya cerita tentang asal-usul kampung kamboja atau kampung bere’en pasar, masyarakat diharapkan tidak hanya mengenal daerahnya sebagai sebuah permukiman, tetapi juga memahami jejak sejarah yang menjadi bagian dari perjalanan panjang Kota Bahari,” tuturnya.