SIDOARJO,Republiku.com – Badan Gizi Nasional (BGN) menjatuhkan sanksi tegas terhadap dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo, yang diduga menjadi sumber keracunan massal ratusan santri Pondok Pesantren Manbauil Hikam, Desa Putat. Dapur tersebut langsung disuspensi dan tidak diizinkan beroperasi sementara waktu, sementara kepala dapur SPPG Kalitengah dicopot dari jabatannya.

Langkah itu diambil setelah BGN menemukan dugaan kelalaian atau ketidakpatuhan terhadap Standar Operasional Prosedur (SOP) dalam pengelolaan dapur MBG.

Wakil Kepala BGN, Mayjen TNI (Purn) Trenggono, menyampaikan hal tersebut saat bersama Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Choiri Fauzi serta rombongan Kantor Staf Presiden (KSP) mengunjungi Ponpes Manbauil Hikam, Jumat (4/9/2026). Berdasarkan laporan pihak pesantren, sebanyak 740 orang terdampak dalam kejadian tersebut. Hingga Jumat pagi, seluruh korban telah mendapatkan penanganan dan sebagian besar sudah kembali ke pesantren.

“Yang terdampak adalah 740 orang. Sampai dengan pagi ini sudah kembali semua, tinggal 22 orang yang masih dirawat di sembilan rumah sakit atau fasilitas kesehatan, dan semuanya sudah dalam kondisi pulih dan baik,” ujar Trenggono.

Ia juga menyampaikan permohonan maaf BGN atas kejadian tersebut. Menurutnya, insiden itu diduga berkaitan dengan kelalaian maupun ketidakpatuhan petugas dapur dalam menjalankan SOP. “Kami menyampaikan permohonan maaf atas kelalaian ataupun ketidakpatuhan petugas dapur dalam mengoperasionalkan dapur, sehingga terjadi kejadian fatal ini,” ungkapnya.

Selain menghentikan operasional dapur, BGN juga mencopot kepala dapur SPPG Kalitengah. Sanksi tersebut, kata Trenggono, merupakan bentuk pertanggungjawaban atas dugaan pelanggaran SOP. “Yang jelas kami sudah memberikan tindakan kepada dapur. Dapur tidak dioperasionalkan, disuspen, dan kepala dapur dicopot,” tegasnya.

Meski demikian, Trenggono memastikan proses investigasi masih berjalan. BGN belum menetapkan tersangka dalam kasus tersebut. “Sementara masih diinvestigasi. Tersangka sementara ini belum ada. Kami lebih fokus pada penanganan korban terlebih dahulu,” jelasnya.

Ia menegaskan, apabila hasil investigasi nantinya menemukan unsur pelanggaran hukum, proses selanjutnya akan disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku. Trenggono juga membuka kemungkinan SPPG Kalitengah disuspensi secara permanen apabila terbukti sengaja tidak menjalankan SOP yang telah ditetapkan BGN. “Apabila dapur tidak melaksanakan SOP dengan baik, ada kesengajaan, dan tidak sesuai dengan aturan BGN, bisa kami suspend permanen,” tegasnya.

Menurut Trenggono, BGN sebenarnya telah menerapkan sistem pengawasan berlapis terhadap ribuan dapur MBG, bahkan pemantauan dilakukan setiap hari melalui konferensi video dari pusat. Pengawasan dimulai sejak penerimaan bahan mentah, pengecekan kualitas, pencucian, pengolahan, memasak, hingga distribusi dan pembagian porsi. “SOP-nya sudah ada, tinggal dilaksanakan di tiap-tiap dapur. Saya yakin kalau SOP ini dilaksanakan, kejadian ini tidak akan terjadi,” ujarnya.

Trenggono juga membantah anggapan bahwa jumlah korban keracunan mencapai ribuan orang. “Enggak ada ribuan. Jangan melaporkan pernyataan yang tidak jelas datanya. Di sini 740 orang pun tertangani dengan baik. Saat ini tinggal 22 orang yang kondisinya semakin membaik,” katanya.

Pihak Ponpes Manbauil Hikam memberikan apresiasi atas respons cepat pemerintah pusat dalam menangani insiden tersebut. Ketua Komisi Fatwa MUI Kabupaten Sidoarjo, KH Abdul Wahid Harun, mengatakan kunjungan langsung jajaran pemerintah pusat menunjukkan tingginya perhatian terhadap kondisi para santri yang terdampak. “Alhamdulillah, kepedulian dari pihak-pihak terkait yang memegang kebijakan di Jakarta begitu tinggi. Artinya, quick response,” ujarnya.

Ia berharap kejadian serupa tidak terulang. Menurutnya, program MBG merupakan program positif yang harus tetap didukung, tetapi pelaksanaannya harus benar-benar memperhatikan kualitas dan keamanan makanan. “Program positif ini didukung oleh semua pihak agar tidak ternodai oleh kelalaian,” katanya.

Pihak pesantren menyatakan seluruh santri yang sebelumnya menjalani perawatan telah dipulangkan, sementara 22 santri masih menjalani perawatan di sembilan fasilitas kesehatan. “Yang dirawat di rumah sakit tinggal 22 orang, tersebar di sembilan rumah sakit,” pungkasnya.