BANGKALAN,Republiku.com – Duka mendalam menyelimuti masyarakat Bangkalan dan sekitarnya atas wafatnya KH. Imam Machsus, pengasuh Pondok Pesantren Al-Aziziyah 3 Bancaran Sebaneh, Bangkalan. Ulama kharismatik yang dikenal sangat alim dalam bidang ilmu fiqih ini menghembuskan napas terakhirnya pada Selasa (25/08/2026) di Rumah Sakit Siloam Surabaya setelah beberapa waktu menjalani perawatan intensif akibat kondisi kesehatan yang menurun.

“Mautul Alim Mautul Alam” — wafatnya seorang alim adalah matinya alam. Ungkapan itulah yang begitu terasa di hati para santri, masyarakat, dan sesama kiai yang selama ini menjadikan beliau sebagai rujukan dalam berbagai persoalan hukum fiqih.

KH. Imam Machsus lahir di Bangkalan pada 17 Januari 1974. Sejak muda, beliau menimba ilmu di tanah suci Mekkah dengan menjadi alumni Sayyid Muhammad Al-Maliki selama periode 1996 hingga 2002. Kapasitas keilmuan beliau tidak diragukan lagi, terbukti dengan sering dipercaya sebagai perumus dalam Lembaga Bahsul Masail (LBM) Nahdlatul Ulama, mulai dari tingkat kabupaten hingga wilayah.

Sosok KH. Imam Machsus dikenal sangat istiqomah dan teguh dalam pendirian. Dalam setiap ceramahnya, beliau selalu tegas dan tidak kenal kompromi ketika menyangkut masalah aqidah dan hukum fiqih. Sikap inilah yang membuat beliau begitu dicintai oleh masyarakat luas.

Salah satu bentuk keistiqomahan beliau yang terkenal adalah kebiasaan mutolaah (mengaji kitab) di pagi hari. Sebagaimana diceritakan oleh salah satu alumninya, meskipun ada undangan yang bersamaan dengan jadwal mutolaah, beliau tetap meluangkan waktu walau hanya 2 hingga 5 menit untuk menjaga konsistensi ibadah dan ilmunya.

Kepergian KH. Imam Machsus meninggalkan duka yang mendalam. Hal ini terlihat dari lautan manusia yang membanjiri Desa Bancaran Sebaneh pada prosesi pemakaman. Pantauan awak media menunjukkan puluhan ribu masyarakat hadir untuk mengantarkan beliau ke tempat peristirahatan terakhir di Maqbaroh Pribadi Pondok Pesantren Al-Aziziyah Sebaneh, pada pukul 14.30 WIB.

Iringan lantunan tahlil dan linangan air mata mewarnai perjalanan terakhir sang kiai. “Selamat jalan wahai guru… Semoga kita semua mendapatkan barokah ilmunya,” ucap salah seorang warga dengan suara lirih penuh haru.

Kepergian KH. Imam Machsus menjadi kehilangan besar bagi dunia pendidikan Islam, khususnya di Madura. Namun, ilmu dan keteladanan beliau akan terus hidup di hati para santri dan umat yang pernah menimba berkah dari sang alim rabbani. Al-Fatihah.