SAMPANG II Republiku.com, — Sebulan mengabdi, meninggalkan banyak cerita dan kenangan. Suasana haru, hangat, dan penuh keakraban mewarnai acara perpisahan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Islam Madura (UIM) di kediaman tokoh masyarakat, Habib Yusuf Assegaf, Desa Madupat, Kecamatan Camplong, Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur, Selasa (18/8/2026).

Sebanyak 19 mahasiswa lintas program studi resmi mengakhiri masa pengabdian setelah selama satu bulan hidup berdampingan dengan masyarakat. Momentum perpisahan tersebut menjadi penanda berakhirnya rangkaian kegiatan sekaligus kesempatan untuk mengenang berbagai program yang telah memberikan warna bagi Desa Madupat.

Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) UIM, Nurul Ismaiyah, M.Pd., mengatakan bahwa sebelum mahasiswa diterjunkan, pihaknya terlebih dahulu melakukan survei dan pemetaan kondisi desa. Langkah tersebut dilakukan agar program kerja yang disusun benar-benar sesuai dengan kebutuhan serta potensi masyarakat.

“ Selama satu bulan, kami selaku DPL beberapa kali melakukan kunjungan dan koordinasi. Tidak hanya secara langsung, tetapi juga melalui Zoom dan WhatsApp. Semua koordinasi dilakukan agar teman-teman benar-benar melaksanakan program kerja sesuai dengan kebutuhan desa,” ujar Nurul saat ditemui di sela-sela kegiatan.

Salah satu program unggulan yang dijalankan adalah sosialisasi pemanfaatan teknologi informasi (TI) bagi tenaga pendidik. Kegiatan tersebut melibatkan perwakilan guru dari delapan sekolah di Desa Madupat dengan menghadirkan narasumber dosen sebagai fasilitator untuk meningkatkan pemahaman mengenai pemanfaatan teknologi dalam mendukung proses pembelajaran.

Tak berhenti pada sektor pendidikan, mahasiswa juga menyusun peta aset Desa Madupat. Peta tersebut diharapkan menjadi media literasi bagi masyarakat untuk mengenali sekaligus memahami berbagai potensi desa, mulai dari sumber air, lahan di sejumlah dusun hingga aset pertanian berupa traktor.

“ Program lainnya adalah edukasi pemanfaatan barang bekas. Adik-adik mahasiswa mengajak siswa di berbagai jenjang untuk memahami pemilahan sampah organik dan anorganik. Barang bekas seperti galon juga dimanfaatkan menjadi tempat sampah,” jelas Nurul.

Kepedulian terhadap lingkungan tersebut menjadi salah satu bentuk nyata bahwa KKN tidak hanya berorientasi pada kegiatan seremonial. Mahasiswa berusaha menanamkan kesadaran sejak dini bahwa barang bekas masih dapat dimanfaatkan dan sampah dapat dikelola dengan lebih baik.

Selain itu, mahasiswa turut memasang plang penunjuk arah menuju sejumlah dusun. Keberadaan fasilitas tersebut diharapkan membantu masyarakat maupun pendatang mengenali wilayah Desa Madupat sekaligus menjadi bagian dari upaya meningkatkan literasi geografis desa.

Salman Alfarisi selaku pemerintah desa menyampaikan apresiasi atas kontribusi mahasiswa KKN UIM selama berada di Madupat. Menurutnya, para mahasiswa mampu membangun komunikasi dengan masyarakat sekaligus menghadirkan sejumlah kegiatan yang memberikan manfaat nyata bagi lingkungan desa.

Sementara itu, Habib Yusuf Assegaf selaku tuan rumah menyambut hangat acara perpisahan tersebut. Baginya, kehadiran mahasiswa selama satu bulan telah membangun hubungan yang lebih dari sekadar kegiatan akademik, tetapi juga melahirkan rasa kekeluargaan antara mahasiswa, pemerintah desa, tokoh masyarakat dan warga.

Bagi Nurul Ismaiyah, keberhasilan KKN tidak semata-mata diukur dari banyaknya program yang berhasil diselesaikan. Lebih dari itu, nilai sebuah pengabdian terletak pada seberapa besar manfaat yang mampu ditinggalkan dan dilanjutkan oleh masyarakat.

“ Yang paling penting bukan hanya programnya selesai, tetapi ada manfaat yang bisa ditinggalkan. Semoga apa yang sudah dilakukan adik-adik mahasiswa bisa terus dirasakan dan dikembangkan oleh masyarakat Desa Madupat,” pungkasnya.

Satu bulan berlalu, mahasiswa pun berpamitan. Namun, ilmu, kebersamaan, dan jejak pengabdian di Desa Madupat diharapkan tetap tinggal sebagai kenangan sekaligus manfaat yang teru