SAMPANG II Republiku.com, — Di tengah hiruk-pikuk Kota Sampang, Monumen Trunojoyo kini menjadi salah satu penanda penting kawasan pusat kota. Namun, jauh sebelum monumen berdiri dan menjadi bagian dari wajah Kota Bahari, lokasi tersebut menyimpan banyak cerita masa lalu yang masih melekat dalam ingatan warga.
Bagi generasi yang tumbuh di kawasan tersebut, tempat berdirinya Monumen Trunojoyo bukan sekadar ruang kota. Dahulu, kawasan itu dikenal dengan sebutan “Stamplat”, sebuah lokasi yang menjadi pusat aktivitas transportasi umum dan tempat masyarakat untuk menunggu maupun menaiki kendaraan menuju berbagai wilayah.
Warga setempat, Mbah Syahril, menuturkan bahwa suasana kawasan tersebut pada masa lalu sangat berbeda dengan kondisi sekarang. Aktivitas kendaraan umum membuat lokasi “Stamplat” menjadi salah satu titik keramaian di pusat Kota Sampang.
” Dulu orang-orang menyebutnya “Stamplat”. Kendaraan umum banyak berhenti di sini. Kalau mau bepergian ke daerah lain, masyarakat biasanya datang ke tempat ini untuk mencari kendaraan,” tutur Mbah Syahril.
Menurutnya, keberadaan “Stamplat” tidak hanya berkaitan dengan transportasi. Tempat tersebut juga menjadi ruang pertemuan masyarakat dari berbagai wilayah. Pedagang, penumpang, sopir, dan warga sekitar berbaur dalam aktivitas sehari-hari.
Kenangan serupa disampaikan Ibu Fatmawarni, warga setempat. Ia mengingat kawasan tersebut sebagai salah satu tempat yang ramai sebelum mengalami perubahan seiring perkembangan Kota Sampang.
” Dulu suasananya ramai sekali. Banyak kendaraan umum dan orang berlalu-lalang. Sekarang sudah berubah menjadi kawasan monumen yang lebih tertata,” ujar Fatmawarni, sambil olahraga pagi jalan kaki, Sabtu (8/8/2026).
Seiring dengan berjalannya waktu, perkembangan tata kota dan perubahan sistem transportasi membuat fungsi “Stamplat” perlahan menghilang. Kawasan tersebut kemudian mengalami penataan dan berubah menjadi bagian dari pusat kota yang lebih modern.
Sebelum dibangun Monumen Trunojoyo, kawasan di pusat kota tersebut dulunya merupakan lahan terbuka atau area perempatan strategis di jantung kota yang kemudian ditata ulang oleh pemerintah daerah menjadi titik nol kilometer serta ruang terbuka hijau atau taman kota untuk mengenang jasa pahlawan lokal Pangeran Trunojoyo.
Kini, Monumen Trunojoyo berdiri sebagai salah satu ikon Kota Sampang sekaligus ruang publik yang mudah dikenali masyarakat. Kehadirannya memberikan wajah baru bagi kawasan yang dahulu menjadi pusat transportasi tersebut.
Namun, bagi Mbah Syahril dan Fatmawarni, cerita tentang “Stamplat” tetap menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari sejarah kawasan itu. Kenangan tentang suara kendaraan, aktivitas penumpang, hingga ramainya warga menjadi potongan masa lalu yang masih tersimpan dalam ingatan.
” Perubahan kota memang harus terjadi. Tapi sejarah jangan sampai dilupakan. Anak-anak sekarang juga perlu tahu bahwa tempat yang mereka lihat sekarang punya cerita panjang,” kata Mbah Syahril.
Kisah “Stamplat” di balik Monumen Trunojoyo menjadi pengingat bahwa sebuah kawasan tidak hanya memiliki nilai dari bangunan yang berdiri di atasnya. Ada perjalanan manusia, aktivitas ekonomi, transportasi, dan kenangan warga yang turut membentuk sejarah Kota Sampang.
Dari sebuah kawasan yang dahulu ramai oleh kendaraan umum, kini menjadi salah satu landmark di Kota Bahari. Monumen Trunojoyo dan kisah “Stamplat” pun menjadi dua wajah dari satu ruang yang sama, wajah masa lalu yang hidup dalam kenangan dan wajah masa kini yang menjadi kebanggaan masyarakat Sampang.


Tinggalkan Balasan